contact
Test Drive Blog
twitter
rss feed
blog entries
log in

Rabu, 30 November 2011

 Talcott Parsons (1902-1979)
Tahun terpenting Parsons dan bagi teori sosiologi Amerika adalah tahun 1937, ketika ia menerbitkan The Structure of Social Action. Buku ini menjadi penting bagi teori sosiologi Amerika karena empat alasan utama. Pertama, buku inimembantu memperkenalkan teori besar Eropa ke kalangan luas di Amerika. Kedua, Parsons hampir tak memperhatikan Marx atau Simmel meski ia memusatkan perhatian pada karya Durkheim, Weber, dan Pareto. Akibatnya teori Marxian sebagian besar tak dimasukkan ke dalam kajian sosiologi yang absah. Ketiga, The Structure of Social Action menjadi tonggak penyusunan teori sosiologi sebagai kegiatan sosiologi yang penting dan sah. Keempat, Parsons menekankan penyusunan teori sosiologi khusus yang telah berpengaruh besar terhadap sosiologi. Pernyataan utama Parsons mengenai teori structural fungsional muncul di berbagai buku di tahun 1950an. Paling terkenal adalah The Social System (1951). Dalam buku itu dan lainnya, Parsons cenderung berkonsentrasi  pada struktur masyarakat dan pada antar hubungan berbagai struktur itu. Berbagai struktur itu dilihat saling mendukung dan cenderung menuju pada keseimbangan dinamis. Perhatian dipusatkan pada masalah bagaimana cara keberaturan dipertahankan di antara berbagai elemen masyarakat.

Talcott Parsons adalah seorang sosiolog kontemporer dari Amerika yang menggunakan pendekatan fungsional dalam melihat masyarakat, baik yang menyangkut fungsi dan prosesnya. Pendekatannya selain diwarnai oleh adanya keteraturan masyarakat yang ada di Amerika juga dipengaruhi oleh pemikiran Auguste Comte, Emile Durkheim, Vilfredo Pareto dan Max Weber. Hal tersebut di ataslah yang menyebabkan Teori Fungsionalisme Talcott Parsons bersifat kompleks.
Asumsi dasar dari Teori Fungsionalisme Struktural, yaitu bahwa masyarakat terintegrasi atas dasar kesepakatan dari para anggotanya akan nilai-nilai kemasyarakatan tertentu yang mempunyai kemampuan mengatasi perbedaan-perbedaan sehingga masyarakat tersebut dipandang sebagai suatu sistem yang secara fungsional terintegrasi dalam suatu keseimbangan. Dengan demikian masyarakat adalah merupakan kumpulan sistem-sistem sosial yang satu sama lain berhubungan dan saling ketergantungan.
Teori Fungsionalisme Struktural yang mempunyai latar belakang kelahiran dengan mengasumsikan adanya kesamaan antara kehidupan organisme biologis dengan struktur sosial dan berpandangan tentang adanya keteraturan dan keseimbangan dalam masyarakat tersebut dikembangkan dan dipopulerkan oleh Talcott Parsons.

George Homans (1910-1989)
Makalah Homans tentang Pareto dijadikan buku berjudul An Introduction to Pareto diterbitkan pada tahun 1934. Publikasi buku ini menjadikan Homans sosiolog meski hingga saat ini sebenarnya karya Paretolah satu-satunya buku sosiologi yang pernah dibacanya. Pada dasarnya Homans menyatakan bahwa teori Parsons bukan teori sama sekali, tetapi lebih merupakan sebuah system intelektuas yang sangat luas yang menggolong-golongkan berbagai aspek kehidupan sosial yang sesuai. Homans yakin bahwa teori harus dibangun dari basis kehidupan sosial yang diobservasi secara hati-hati. Berdasarkan perspektif ini humans membangun teori pertukaran. Poin pentingnya di sini adalah bahwa Harvard dan produk teoritis utamanya, fungsionalisme structural, menjadi dominan dalam sosiologi akhir tahun 1930 dan menggantikan aliran Chicago dan Interaksionisme simbolik.

Semula George C. Homans tidak menaruh perhatian masalah pertukaran sosial dalam mengadakan pendekatan terhadap masyarakat karena pada awalnya ia mengarahkan perhatian pada pendekatan fungsionalisme struktural. Pendekatan fungsionalisme struktural ternyata mempunyai arti yang sangat penting karena mampu memberi masukan terhadap teori sosiologi, terutama dalam hubungannya dengan struktur, proses dan fungsi kelompok sebagaimana tercantum dalam bukunya yang berjudul The Human Group. Menurut pendapatnya analisis fungsionalisme struktural mempunyai manfaat untuk menemukan dan memberikan uraian, akan tetapi pendekatan tersebut tidak mampu menjelaskan. Selanjutnya, berhubung pendekatan fungsionalisme struktural itu tidak dapat menjelaskan berbagai macam hal maka menurut pendapatnya dianggap sebagai suatu kegagalan.
Berhubung pendekatan fungsionalisme struktural dianggap gagal dalam memberikan fenomena-fenomena baru yang muncul dalam interaksi sosial di masyarakat maka ia berusaha menyempurnakannya dengan prinsip-prinsip pertukaran sosial. Berkenaan dengan hal tersebut maka ia tinggalkan pendekatan fungsionalisme struktural dan selanjutnya menyatakan tentang pentingnya pendekatan psikologi dalam menjelaskan gejala-gejala sosial. Menurut pendapatnya dengan psikologi dapat dijelaskan mengenai faktor yang menghubungkan sebab dan akibat. Dalam hal yang menghubungkan antara sebab dan akibat hanya dapat dijelaskan oleh proposisi psikologi melalui pendekatan perilaku. Namun, pada mulanya ia juga menggunakan pendekatan ilmu ekonomi karena diasumsikan bahwa orang yang berperilaku itu memperoleh ganjaran dan menghindari hukuman. Akan tetapi, ia juga berpendapat bahwa perilaku orang itu tidak semata-mata alasan ekonomi, melainkan juga karena adanya rasa kepuasan, harga diri dan persahabatan.
Perlu diketahui bahwa George C. Homans menyatakan bahwa psikologi perilaku sebagaimana diajarkan oleh B.F. Skinner dapat menjelaskan pertukaran sosial. Adapun proposisi yang mampu memberikan penjelasan pertukaran sosial, yaitu (1) proposisi sukses, artinya semakin perilaku itu memperoleh ganjaran, semakin orang melaksanakan perilaku tersebut; (2) proposisi stimulus, artinya apabila stimulus menyebabkan adanya ganjaran maka pada kesempatan yang lain orang akan melakukan tindakan apabila ada stimulus yang serupa; (3) proposisi nilai, artinya semakin tinggi nilai suatu tindakan maka semakin senang orang melaksanakan; (4) proposisi deprivasi satiasi, artinya semakin orang memperoleh ganjaran tertentu maka semakin berkurang nilai itu bagai orang yang bersangkutan; (5) proposisi restu-agresi, artinya ganjaran yang tidak seperti yang diharapkan maka akan menyebabkan marah dan kecewa serta dapat menyebabkan perilaku yang agresif.
Sumber : Wikipedia Indonesia

2

2 komentar:

  • Mohamad Kamil on 5 Desember 2011 10.04

    contohilah mereka berdua itu yang rajin berusaha dan tak pernah berputus asa... bak kata pepatah melayu, usaha itu tangga kejayaan...

  • pakdhe abdan on 15 Desember 2011 04.14

    artikelnya bagus,,,lebih menarik kalo di beri foto tokohnya

  • Poskan Komentar

    Pages

    Diberdayakan oleh Blogger.

    You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

    Loading...

    This Time

    Share it

    Populer