contact
Test Drive Blog
twitter
rss feed
blog entries
log in

Jumat, 25 November 2011


OLEH : GALIH LUMAKSONO
JURUSAN : PENDIDIKAN SOSIOLOGI ANTROPOLOGI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

Kerajaan Majapahit merupakan salah satu kerajaan terbesar yang pernah ada di nusantara. Wilayah yang luas dan armada perang yang mumpuni membuat kerajaan ini sangat disegani oleh kerajaan di dunia pada masa itu. Namun terlepas faktor tersebut terdapat satu nama yang sangat berjasa dalam keutuhan dan kemakmuran kerajaan majapahit pada masanya. Dialah mahapati gajah mada. Kita sering mendengar nama gajah mada sebagai nama jalan, toko, lembaga pendidikan, maupun hal lainnya. Namun ternyata tidak banyak orang yang mengerti siapa sesungguhnya sosok gajah mada itu sendiri dan apa peranannya sehingga pada akhirnya ia menjadi “label” bahkan sebagai salah satu pahlawan nusantara. Hal itu memang wajar dan bisa diterima karena masih sedikitnya sumber yang menjelaskan mengenai kepahlawanan dalam sosok sang gajah mada itu sendiri.
Nama gajah mada adalah sosok yang tidak dapat lepas dari perjalanan panjang sebuah kerajaan agung bernama majapahit. Dialah sosok patih yang begitu didambakan rakyat dan disegani oleh musuh majapahit pada masa itu. Sosok lelaki perkasa yang senantiasa mengemban amanat dan kesetiaan pada sang mahadiraja majapahit. Ia pula yang senantiasa menjaga keutuhan majapahit hingga nantinya melebarkan pengaruhnya di dalam wilayah kekuasaannya.
Gajah Mada adalah seorang panglima perang dan tokoh yang sangat berpengaruh pada zaman pemerintahan kerajaan Majapahit. Ia memulai kariernya pada tahun 1313 dan semakin menanjak setelah peristiwa pemberontakan Ra Kuti pada masa pemerintahan Sri Jayanagara, yang mengangkatnya sebagai Patih. Ia menjadi Mahapatih (Menteri Besar) pada masa Ratu Tribhuwanatunggadewi, dan kemudian sebagai Amangkubhumi (Perdana Menteri) yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya. Ia menjadi patih menggantikan pendahulunya yaitu Aryo Tadah (Mpu Krewes) yang mengundurkan diri dari jabatan patihnya. Kemudia ia menunjuk Gajah Mada untuk menggantikannya, namun gajah mada merasa perlu memberikan suatu kontribusi yang terlihat manfaatnya bagi kerajaan Majapahit itu sendiri. Hingga pada akhirnya ia berhasil meredam pemberontakan yang dilakukan oleh daerah Keta dan Sadeng yang sekaligus juga menunjukkan bahwa Gajah mada telah memberikan manfaat bagi kerajaan Majapahit. Ia menjabat sebagai patih selama tahun 1334 sampai dengan tahun 1359.
Peran gajah mada bagi kerajaan majapahit sangatlah besar. Ia berulang kali memberantas pemberontakan yang terjadi di kerajaan itu. Pemberontakan itu sendiri bermaksud untuk meruntuhkan tahta pemerintahan pada masa Sri jayanegara. Namun berkat kecakapan yang dimilikinya ia dapat mengendus gelagat yang akan berkembang menjadi suatu pemberontakan. Adalah Ra kuti sosok yang paling fenomenal menimbulkan isu pemberontakan yang bertujuan untuk menggulingkan majapahit pada masa itu. Pada awalnya memang banyak pihak yang meragukan gajah mada yang mengatakan akan ada pihak yang nantinya akan mengancam keutuhan majapahit, namun ia tetap memegang teguh pandangannya sambil terus bersiaga memberantas setiap pemberontakan yang akan terjadi. Hingga pada akhirnya pemberontakan itu muncul dan menimbulkan kekacauan yang besar pada kerajaan majapahit. Namun di balik semua kekacauan itu muncul sosok gajah mada dengan siasatntya dan kelihaiannya dalam memecahkan masalah tersebut. Hingga pada akhirnya pemberontakan itu berakhir dan dapat dilenyapkan dari bumi majapahit.
Berdasar hal tersebut, “hal apa yang sebenarnya membuat gajah mada pantas disebut sebagai pelopor pemersatu nusantara?” pertanyaan ini kemudian muncul seiring makin banyaknya nama gajah mada dipakai untuk kepentingan tertentu. Untuk menjawabnya kita perlu mengetahui hal fenomenal apa yang terjadi di masa lalu hingga akhirnya  gajah mda mendapatkan penghargaan yang dapat dikatakan menembus lintas waktu dan jaman. Semua orang pastinya akan menjawab,”sumpah palapa!”. Ya benar memang hal inilah yang menjadi latar belakang munculnya gajah mada sebagai pahlawan sepanjang masa di nusantara.
Berbicara mengenai masalah sumpah palapa alangkah lebih baiknya kita mengerti dan memahami hal tersebut. Banyak sumber yang menjelaskan mengenai asal-usul sumpah ini, namun banyak ketidaksamaan yang ada pada sumber-sumber tersebut. Hal itulah yang kemudian memunculkan semacam kontroversi di masyarakat, yang pada akhirnya menimbulkan tanda tanya besar pada diri individu masyarakat tersebut. Namun secara  garis besar sebenarnya hampir sama antara sumber yang satu dengan yang lain mengenai perihal penjelasan sumpah palap tersebut.
Secara umum yang dimaksud dengan Sumpah Palapa adalah suatu pernyataan/sumpah yang dikemukakan oleh Gajah Mada pada upacara pengangkatannya menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit, tahun 1258 Saka (1336 M).  Inti dari sumpah tersebut adalah bahwa sang patih tidak akan melepas puasanya sebelum berhasil mempersatukan nusantara ke dalam kedaulatan kerajaan Majapahit. Menurut versi lain ada juga yang mengatakan bahwa sang gajah mada tidak akan makan buah maja sebelum ia berhasil mempersatukan nusantara dalam satu kedaulatan yang penuh. Salah satu naskah Nusantara yang secara terang menjelaskan mengenai sumpah palapa ini adalah serat Pararaton atau sering juga disebut Kiatab Pararaton oleh beberapa kalangan. Dalam serat ini secara tegas menjelaskan mengenai perihal sumpah tersebut secara strategis, maksudnya adalah bahwa sumpah tersbut memang benar-benar ada dan tidak hanya sebagai isapan jempol belaka. Namun ada sisi lemah dari sumber ini yaitu bahwa dalam serat ini tidak disebutkan secara tegas mengenai nama sumpah Palapa, melainkan nama itu berasal dari penilaian konvensional dan tradisional para ahli Jawa Kuno yang sudah dirundingkan secara matang untuk kemudian muncul nama Sumpah Palapa.
Secara lebih jauh dalam serat Pararaton, dijelaskan bahwa sumpah Palapa tersebut dilontarkan oleh gajah mada pada saat peristiwa pengangkatannya sebagai seorang patih. Sumpah Palapa ini ditemukan pada teks Jawa Pertengahan Pararaton, yang berbunyi
Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada : “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”.
Terjemahannya adalah :
Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa (nya). Beliau Gajah Mada, “Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru) melepaskan puasa, jika (berhasil) mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru) melepaskan puasa (saya)”.
Dari bunyi sumpaha Palap tersebut dapat ditemukan beberapa fakta yang penting bahwa yang pertama, gajah mada mempunyai keinginan yang begitu besar untuk nantinya dapat mengabdi pada kerajaannya karena mengingat sumpah yang dilontarkannya tersebut bukanlah bersifat min-main melainkan sudah melibatkan harga dirinya sebagai seorang lelaki dan patih di kerajaannya. Apabila ia sampai melanggar ataupun tidak dapat memenuhinya maka nantinya harga dirinya seras terinjak-injak dan juga anggapan rakyat Majapahit beserta pejabat Majapahit pada sosoknya akan berubah drastis. Fakta yang kedua adalah bahwa dengan adanya sumpah tersebut mengindikasikan bahwa pada masa itu tidak seluruh wilayah Nusantara berada pada kekuasaan kerajaan Majapahit. Sehingga melihat tersebut Gajah mada merasa tertantang dan tergerak untuk nantinya dapat menyatukan Nusantara dalam satu kedaulatan utuh. Yang ketiga adalah bahwa dilihat dari sisi bentuk Sumpah Palapa adalah prosa. Sedangkan isinya mengandung pernyataan suci kepada Tuhan Yang Maha Esa yang diucapkan oleh Gajah Mada di hadapan ratu Majapahit Tribuwana Tunggadewi dengan disaksikan oleh para menteri dan pejabat-pejabat lainnya, yang substansinya Gajah Mada baru mau melepaskan (menghentikan) puasanya apabila telah menguasai seluruh nusantara.
Apabila dikaji lebih lanjut sumpah Palapa mempunyai beberapa nilai-nilai tertentu. Dari sisi nilai Sumpah Palapa mengandung pelbagai nilai : nilai kesatuan dan persatuan wilayah Nusantara, nilai historis, nilai keberanian, nilai percaya diri, nilai rasa memiliki kerajaan Majapahit yang besar dan ber-wibawa, nilai geopolitik, nilai sosial budaya, nilai filsafat, dsb.
Dari sisi ideologi, Sumpah Palapa yang juga dikenal sebagai Sumpah Gajah Mada atau Sumpah Nusantara , Sumpah Palapa memiliki ideologi kebhineka tunggal ikaan, artinya menuju pada ketunggalan keyakinan, ketunggalan ide, ketunggalan senasib dan sepenanggungan, dan ketunggalan ideologi akan tetapi tetap diberi ruang gerak kemerdekaan budaya bagi wilayah-wilayah negeri se Nusantara dalam mengembangkan kebahagiaan dan kesejahteraannya masing-masing.
Dari sisi enerji Sumpah Palapa dianugerahi enerji Ketuhanan Yang Maha Dasyat karena tanpa enerji tersebut tak mungkin Gajah Mada berani mencanangkan sumpah tersebut. Hal itu kemudian menjadi semacam motivasi yang tak terkira besarnya, bahkan mampu mendorong seseorang untk melakukan apapun demi memenuhi hasrat tersebut.
Berlanjut ke penjelasan berikutnya, terlepas dari kesuksesan sang patih Gajah Mada dengan sumpah palapanya ternyata ia juga memiliki satu peristiwa buruk yang pada akhirnya menghancurkan citra yang ia rintis semenjak ia menjadi seorang Bekel. Tak ada gadi ng yang tak retak itulah satu ungkapan yang tepat bagi perjalanan sang patih Gajah Mada tersebut. Perjalanan hiup gajah Mda yang begitu gemilang hingga sebuah tragedi menodainya. Perang Bubat bagaikan nila setitik yang merusak susu sebelangga kisah kepahlawanan dari Gajah Mada.
Sebagai seorang pimpinan pasukan khusus bhayangkara, Gajah Mada berhasil menyelamatkan Prabu Jayanegara dari ancaman pembunuhan yang dilakukan oleh Ra Kuti, bahkan yang lebih sensasional mampu melakukan pukulan balik yang mematikan hingga mengakhiri perjalanan hidup pemberontak tersebut. Peristiwa lain ketika singgasana kerajaan Majapahit tidak ada yang menduduki karena Jayanegara terbunuh di tangan Ra Tanca, Gajah Mada pun kembali tampil dengan gagahnya. Dengan mengusulkan Sri Gitarja dan Dyah Wiyat Rajadewi menjadi ratu kembar, Gajah Mada berhasil menghindarkan Majapahit drai pertumpahan darah akibat adanya perebutan kekuasaan di antara para kerabat istana. Dan juga masih banyak mengenai kisah kepahlawanan dari Gajah mada dalam menegakkan panji-panji kerajaan Majapahit agar tetap utuh dan terus berjaya.
Namun keberkahan itu tak abadi. Obsesi dan ambisi patih Gajah Mada yang berkeinginan untuk membangun kebsaran kerajaan Majapahit ternyata berujung pada sebuah bencana. Hal itu berawal ketika muncul adanya Peraang Bubat. Peristiwa Bubat yang terjadi tahun 1360 di awali oleh niatan Raja Hayam Wuruk untuk memperistri Dyah Pitaloka Citraresmi dari negeri Sunda. Atas restu kerajaan Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar Putri Dyah Pitaloka. atas dasar rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur. Maka berangkatlah Linggabuana beserta rombongan Sunda ke Majapahit dan diterima serta ditempatkan di pesanggrahan Bubat. Melihat kedatangan raja Sunda beserta Permaisuri dan sang putri Dyah Pitaloka dengan diiring prajurit, maka timbul niat Gadjah Mada untuk menguasai Kerajaan Sunda dan memenuhi Sumpah Palapa yang dia ucapkan, karena dari seluruh Nusantara hanya Kerajaan Sunda yang belum tertaklukan.
Disinilah terjadi pertentangan,Gadjah Mada menekan Hayam Wuruk untuk menerima rombongan Raja Linggabuana bukan sebagai calon pengantin tapi sebagai bentuk penyerahan diri dan pengakuan superioroitas Sunda atas Majapahit. Hayam Wuruk menjadi bimbang, kemana harus berpihak Putri Dyah Pitaloka sang calon istri yang dicintai atau Gadjah Mada sang patih andalan yang dia hormati.
Di tengah kebimbangan itu terjadilah insiden perselisihan antara utusan linggabuana yang mencaci-maki Gadjah Mada atas sikapnya yang tidak sopan dan sangat keterlaluan. Utusan Sunda terkejut karena kedatangannya dianggap takluk bukan karena undangan, tapi Gadjah Mada tetap pada pendiriannya. Belum lagi Hayam Wuruk membuat keputusan Gadjah Mada sudah terburu nafsu dan menyerang ke Pesanggrahan Bubat. Maka terjadilah peperangan tidak seimbang antara pasukan “rombongan pengantin” yang sedikit berhadapan dengan kesatria-kesatria Majapahit dalam jumlah besar.  Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Raja Linggabuana, para menteri, pejabat kerajaan Sunda, serta Sang Putri Dyah Pitaloka.
Hayam Wuruk terkejut, marah dan menyesalkan tindakan gegabah Gadjah Mada, dan akhirnya menyampaikan darmadyaksa (utusan) dari Bali untuk menyampaikan permohonan maaf kepada plt sementara raja Sunda Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati supaya peristiwa yang terjadi dapat diambil hikmahnya.
Akibat Peristiwa ini, hubungan Hayam Wuruk dengan Gadjah Mada merenggang. Gadjah Mada tetap menjadi patih hingga wafat tahun 1364 M. akbat peristiwa ini pula, dikalangan kerabat Sunda diberlakukan peraturan esti larangan ti kaluaran, yang diantaranya tidak bleh menikah dari luar lingkungan kerabat sunda atau lebih jauh tidak boleh menukah dengan kerajaan dari sebelah timur Sunda.

0

0 komentar:

Posting Komentar

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Populer